Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Palembang Bantah Minta Sumbangan

Palembang – Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Palembang, Dra. Hj. Rusdiana M.Si membantah keras meminta sumbangan kepada siswa baru di SMA N 3 Palembang.

Ibu empat orang anak ini mengatakan, sumbangan yang sifatnya sukarela adalah hasil rapat dari pihak komite sekolah, jadi tidak benar sekolah yang meminta uang.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Sekolah saat ditemui di ruang kerjanya Kamis (3/8) mengenai keluhan beberapa orang wali murid tentang sumbangan yang ditentukan sekolah sebesar Rp. 6 juta per siswa. Uang sebesar Rp. 6 juta dengan rincian Rp. 4 juta untuk biaya pembangunan sarana dan prasarana sekolah dan Rp. 2 juta untuk biaya operasional dan administrasi.

Selanjutnya, Kepala sekolah mengatakan, kalau ada wali murid yang merasa tidak mampu silahkan untuk mengajukan surat ke Komite dan ditembuskan ke Kepala Sekolah. Lampirkan surat keterangan tidak mampu yang ditandatangani Ketua RT setempat dan diketahui oleh Lurah dan Camat. Semua biaya yang berkaitan dengan proses belajar anak tersebut akan dibebaskan, kata Kepala Sekolah.

Rusdiana mengakui kalau SMA Negeri 3 Palembang adalah sekolah favorit dan tempat anak “orang yang punya”. Walaupun demikian, kata mantan Kepala Sekolah SMAN 8 dan SMAN 21 Palembang itu, banyak juga siswa tidak mampu yang bersekolah di SMA Negeri 3 Palembang, ujar alumni S2 STISIPOL Chandradimuka Palembang yang satu ini.

Ketika ditanyakan motto mendidik siswa/siswi nya, ibu yang ramah dan murah senyum itu mengatakan, dia mengedepankan moral, percuma saja pintar tapi tak bermoral. Ini yang kita terapkan untuk generasi yang akan datang.
Selain itu kata Kepala Sekolah, anak perlu diajarkan hidup prihatin sebab sekarang ini banyak anak pola hidupnya sehari-hari bermewah-mewahan tanpa menyadari keadaan orang tua mereka. Salah satu contoh hidup prihatin, apa yang dilakukan anak saya yang kuliah di Fakultas Kedokteran. Harga buku untuk Fakultas Kedokteran ada yang harganya Rp. 2,5 juta untuk satu buah buku. Untuk mendapat buku tersebut anak saya bilang, “Ma untuk mendapat buku itu tidak perlu mencari di toko buku, cukup cari saja di pasar loak dengan harga Rp. 500 ribu sebab yang penting isinya, bukan bukunya,” kata anak saya. Itulah salah satu contoh kecil hidup prihatin.
Mengenai kehidupan masyarakat kalangan bawah, Rusdiana mengungkapkan bahwa dia hapal betul mengenai pola kehidupan mereka sebab sampai sekarang ini, masih tinggal di perkampungan masyarakat yang dikenal dengan sebutan “Daerah abu-abu” yaitu daerah Sungai Batang, Palembang. Walaupun demikian dengan kehadirannya di daerah itu, anak-anak mereka memiliki pendidikan dan pola pikir yang maju, ujarnya.

Penulis : Rosihan-Sumsel

Editor & Publish : Eny

Related posts